Latar Belakang

Memasuki tahun kedua kasus Covid-19 yang belum juga mereda, bahkan saat ini kasus Covid-19 justru melonjak tinggi di beberapa daerah yang pada akhirnya ditetapkan sebagai zona hitam. Segala cara dilakukan dalam upaya  untuk mencegah dan  memberantas virus Covid-19. Isu terkait obat Covid hingga ditemukannya vaksin yang digunakan di sejumlah negara termasuk Indonesia saat ini adalah metode untuk memberantas pandemi ini. Selain itu, ada metode lain yang belakangan ini ramai di social media, “Donor Plasma Konvalesen”. Untuk beberapa orang istilah ini mungkin sudah tidak asing lagi, sering kita jumpai banyak teman, saudara , atau seseorang yang mencari donor plasma konvalesen untuk metode pengobatan keluarganya yang terindikasi positif Covid-19. Beberapa orang mungkin sudah memahami apa itu donor plasma konvalesen, tetapi tak sedikit orang yang belum mengetahuinya. Jika masyarakat atau mahasiswa masih awam dengan istilah-istilah medis seperti ini, maka akan susah dalam penyebaran informasi dan saling membantu satu sama lain. Sehingga kami Kementerian luar negeri BEM Poltekkes Surabaya mengangkat materi kajian terkait donor plasma konvalesen yang diharapkan mampu memberikan pandangan sekaligus sebagai upaya pencerdasan untuk masyarakat. 

Pengertian Plasma Konvalesen dan Penyintas Covid-19

Plasma konvalesen adalah plasma darah yang diambil dari pasien Covid-19 yang telah sembuh, dan kemudian diproses agar dapat diberikan kepada pasien yang sedang dalam masa pemulihan setelah terinfeksi. Jadi, donor darah plasma konvalesen adalah donor darah dari penyintas Covid-19 untuk membantu pasien lain yang belum sembuh dari paparan virus corona. Sedangkan arti penyintas Covid-19 adalah orang yang pernah terpapar virus corona atau pasien positif Covid-19 yang telah berhasil sembuh dari penyakitnya.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, plasma konvalesen sudah dikenal sejak lama sebagai sebuah metode terapi. Selain itu, pada berbagai kondisi, terutama pada situasi-situasi pandemi. Situasi di mana ada penyakit baru, kita belum banyak mengenal, maka dilakukan terapi dengan cara plasma konvalesen. Beliau menjelaskan, terapi plasma konvalesen berpijak pada pemahaman bahwa seorang penyintas infeksi, setelah sembuh akan membentuk antibodi dalam tubuhnya. Sementara itu, Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia (PMI) Bidang Unit Transfusi Darah dan Rumah Sakit, dr. Linda Lukitasari mengungkapkan bahwa persyaratan donor darah plasma konvalesen hampir sama dengan donor darah biasa (Dewi, 2021).

Terapi Plasma Darah

Terapi plasma konvalesen menggunakan darah orang-orang yang telah sembuh dari Covid-19. Tak heran belakangan ini banyak pasien virus corona yang mencari plasma darah penyintas Covid-19 untuk melakukan pengobatan tersebut. Darah yang disumbangkan oleh penyitas Covid-19 mengandung antibodi terhadap virus yang menyebabkannya, yaitu virus corona.

Para penyitas Covid-19 akan menjadi pendonor plasma dengan menjalani sejumlah pemeriksaan dan memenuhi persyaratan. Darah yang disumbangkan diproses untuk menghilangkan sel darah, meninggalkan cairan (plasma), dan antibodi. Plasma darah ini dapat diberikan kepada pesien Covid-19 untuk meningkatkan kemampuan melawan virus. Terapi plasma konvalesen dapat membantu orang pulih dari Covid-19 sehingga dapat mengurangi tingkat keparahan penyakit. Terapi plasma konvalesen Covid-19 diberikan sebagai upaya pengobatan bukan untuk pencegahan. Kini, terapi plasma konvalesen hanya boleh digunakan untuk kondisi darurat dan penelitian.

Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menyetujui program untuk menguji plasma pada penyitas Covid-19 di Mayo Clinic. Lebih dari 90.000 pasien telah mendaftar dalam program tersebut, dan 70.000 pasien telah menerima perawatan. Data menunjukkan bahwa plasma dapat menurunkan angka kematian pada pasien sebesar 35%, terutama jika pasien dirawat dalam waktu tiga hari setelah diagnosis. Mereka yang mendapat manfaat donor plasma konvalesen, paling banyak berusia di bawah 80 tahun dan tidak menggunakan alat bantu pernapasan (Terapi Plasma Darah , 2021).

Fungsi Plasma Darah

Plasma membantu membawa nutrisi, protein, dan hormon ke berbagai sel di dalam tubuh, termasuk :

  • Hormon pertumbuhan yang membantu otot dan tulang untuk tumbuh.
  • Mengandung faktor pembekuan darah yang membantu menghentikan pendarahan.
  • Mengandung nutrisi seperti kalium dan natrium yang membantu kerja sel.

Selain itu, plasma juga membantu tubuh untuk :

  • Mempertahankan tekanan darah normal dan tingkat volume darah.
  • Membuang sisa hasil metabolisme (Terapi Plasma Darah, 2021).

Cara Kerja Terapi Plasma Konvalesen

Terapi plasma darah atau plasma konvalesen dilakukan dengan mengambil plasma konvalesen dari darah penyitas Covid-19 yang telah sembuh total. Plasma darah akan diberikan kepada pasien Covid-19 dalam kondisi berat dengan mentransfusikan plasma darah sebagai bagian dari perawatan. Ada beberapa prosedur yang dilakukan di antaranya sebagai berikut :

Sebelum prosedur

Sebelum terapi plasma konvalesen, tim perawatan kesehatan akan mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan. Petugas kesehatan memasukkan jarum sekali pakai steril yang terhubung ke tabung intravena atau IV ke dalam pembuluh darah di salah satu lengan pasien.

Selama prosedur

Ketika plasma tiba, kantong plasma steril melekat pada tabung dan plasma menetes ke luar dan ke dalam tabung. Dibutuhkan sekitar 1-2 jam untuk menyelesaikan prosedur ini.

Setelah prosedur

Pasien akan diawasi dengan ketat setelah menerima plasma konvalesen. Dokter akan merekam tanggapan tubuh pasien terhadap tindakan perawatan dan juga mencatat berapa lama pasien harus tinggal di rumah sakit atau membutuhkan terapi lain (Terapi Plasma Darah, 2021).

Syarat Donor Plasma Konvalesen

Palang Merah Indonesia (PMI) meningkatkan pelayanan plasma konvalesen dengan memudahkan syarat bagi  pendonor. Salah satu kemudahan yang diberikan PMI yaitu menggantikan hasil tes PCR calon pendonor dengan surat sehat dari fasilitas kesehatan atau rumah sakit yang merawat calon pendonor tersebut. Beberapa syarat lain untuk dapat menjadi pendonor, diantaranya :

  1. Usia 18-60 tahun.
  2. Berat badan minimal 55 kg.
  3.  Diutamakan pria, apabila wanita belum pernah hamil.
  4. Pernah terkonfirmasi Covid-19 dengan surat keterangan sembuh dari dokter yang merawat.
  5. Bebas gejala selama 14 hari setelah sembuh.
  6. Maksimal 3 bulan pasca sembuh Covid-19.
  7. Tidak menerima transfusi darah selama 3 bulan terakhir.
  8. Lebih diutamakan yang pernah mendonorkan darah (PMI Permudah Syarat Jadi Donor Plasma Konvalesen, Apa Saja?, 2021).

Selain beberapa syarat yang telah ditetapkan di atas, penyintas Covid-19 boleh untuk mendonorkan plasma dengan jangka waktu 2 minggu setiap selesai donor (Lisfianti, 2021).

Cara dan Alur Donasi Plasma Konvalesen

Para penyintas yang telah memenuhi kriteria dapat menghubungi UDD PMI. Petugas akan mengatur waktu untuk pemeriksaan dan pengambilan sampel darah, jika memenuhi syarat, pengambilan donor plasma konvalesen akan dilakukan menggunakan metode apheresis (Donor Plasma Konvalesen, t.thn.). Metode ini diantaranya :

Persiapan Donor

  1. Mengisi formulir Donor Darah dan Informed Consent (Persetujuan Tindakan Medis),
  2. Seleksi donor melalui Anamesis (Riwayat Kesehatan)
  3. Pemeriksaan Fisik

– Pemeriksaan Lab Donor

  1. Darah Lengkap
  2. Konfirmasi Golongan Darah
  3. Skrining Antibodi
  4. Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Sifilis)

– Pengambilan Darah Donor

Menggunakan mesin Apheresis dengan lama waktu pengambilan Darah Donor adalah 45 menit (Lisfianti, 2021).

Efektivitas dan Risiko Plasma Konvalesen sebagai Terapi Covid

Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan secara resmi memulai penelitian Uji Klinik Terapi Plasma Konvalesen pada pasien Covid-19 pada Selasa, 8 September 2020. Uji klinik ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/346/2020 tentang Tim Penelitian Uji Klinik Pemberian Plasma Konvalesen Sebagai Terapi Tambahan Covid-19.

Penggunaan plasma darah dalam pengobatan bukanlah hal baru. Konvalesen plasma darah sendiri telah digunakan sejak tahun 1900-an.  Penggunaan plasma dari penderita yang sembuh sebagai terapi telah dilakukan untuk pengobatan pada wabah penyakit flu babi pada tahun 2009, Ebola, SARS, dan MERS. Terapi plasma konvalesen pada Covid-19 hingga kini hanya boleh digunakan untuk kondisi kedaruratan dan dalam penelitian. Manfaat terapi ini masih kontroversial karena masih belum cukup bukti yang menunjukkan efektivitasnya. Uji klinis acak dengan grup pembanding (randomized controlled trial) ini adalah bagian penting untuk menjawab kontroversi ini (Rokom, 2021).

Menurut Ketua Bidang Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Linda Lukitari, mengatakan bahwa terapi plasma konvalesen bagi pasien Covid-19 semakin banyak dibutuhkan sehingga membuat orang harus antre. Dalam terapi ini, darah dari penyintas yang telah sembuh minimal 14 hari diberikan kepada penderita Covid-19. Plasma darah dari penyintas dianggap seperti antibodi sehingga saat ditransfusikan kepada pasien akan bekerja seperti imunisasi. Namun, untuk efektivitas terapi ini masih diperdebatkan. Menurut sebuah riset yang melibatkan 400 pasien menyebutkan bahwa efektivitas terapi terbatas.

Pada studi kasus ini didapatkan bahwa administrasi terapi konvalesen plasma pada pasien Covid-19 dapat menurunkan mortalitas (angka kematian), memperpendek durasi rawat inap, hingga kesembuhan pada pasien Covid-19 jika dibandingkan dengan plasebo atau tanpa terapi (Syambudi, 2021).

            Risiko penyebaran penyakit Covid-19 sebagai penyakit menular melalui plasma donor menjadi salah satu isu penting yang perlu diperhatikan pada penerapan terapi plasma konvalesen pada pasien Covid-19. Pada praktik transfusi darah atau Transfusion-Transmissible Infection (TTI) yang tidak aman akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan secara individu sehingga menjadi sumber penularan kepada orang lain, bahkan sampai pada tahap seorang pasien dinyatakan positif menderita suatu penyakit tertentu, tetapi tidak ada gejala klinis yang ditunjukkannya. (asimtomatik). Oleh sebab itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan agar setiap negara memiliki kebijakan nasional untuk skrining TTI terhadap seluruh produk darah.

            Pemerintah Republik Indonesia dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 91 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Transfusi Darah telah mengatur berbagai proses yang perlu dilakukan terhadap produk darah donor sebelum dapat dinyatakan aman untuk diberikan sebagai terapi kepada pasien lain. Salah satu ketentuan yang diatur dalam peraturan tersebut adalah uji saring TTI terhadap produk aferesis. Prinsip ini sejalan dengan rekomendasi International Society of Blood Transfusion (ISBT) tentang aspek yang perlu dipertimbangkan untuk persiapan donor plasma konvalesen. Metode lain yang dapat dipertimbangkan untuk menurunkan risiko TTI terkait donor plasma konvalesen adalah penggunaan teknologi reduksi patogen (Pathogen Reduction Technology / PRT). Beberapa metode PRT cukup efektif dalam menurunkan jumlah patogen infeksius dalam suatu produk darah. Teknik ini digunakan untuk mengurangi atau mengeliminasi organisme infeksius yang terdeteksi, termasuk bakteri, virus, dan parasit dari komponen darah yang hendak digunakan untuk transfusi (Sunita, t.thn.).

Daftar Pustaka

(n.d.). Retrieved from http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/103/jtptunimus-gdl-mardekawat-5135-2-bab2.pdf

-. (n.d.). KTI Mardekawati.

(2021, Maret 19). Retrieved from Tribunnews.com: https://www.tribunnews.com/section/2019/03/21/selamat-hari-down-syndrome-sedunia-yuk-simak-sejarah-hari-down-syndrome?page=2

21 Day Challenge for World Down Syndrome Day. (n.d.). Retrieved from https://www.ds-int.org/: https://www.ds-int.org/Event/21-day-challenge-for-world-down-syndrome-day

21 Day Challenge for World Down Syndrome Day. (n.d.). Retrieved from ds-int.org: https://www.ds-int.org/Event/21-day-challenge-for-world-down-syndrome-day

7 Cara Seru Meriahkan Hari Keluarga. (n.d.). Retrieved from sariwangi: https://www.tehsariwangi.com/artikel/7-cara-seru-meriahkan-hari-keluarga-nasional

Alda, N. R. (2021, Juli 22). PMI Permudah Syarat Jadi Donor Plasma Konvalesen, Apa Saja? Retrieved from Kompas.com: https://www.kompas.com/tren/read/2021/07/22/085200565/pmi-permudah-syarat-jadi-donor-plasma-konvalesen-apa-saja

Dewi, R. K. (2021, Januari 18). Pahami Donor Plasma Konvalesen, Syarat dan Alurnya untuk Kesembuhan Covid-19. Retrieved from Kontan.co.id: https://kesehatan.kontan.co.id/news/pahami-donor-darah-plasma-konvalesen-syarat-dan-alurnya-untuk-kesembuhan-covid-19?page=all

Donor Plasma Konvalesen. (n.d.). Retrieved from Palang Merah Indonesia: https://plasmakonvalesen.covid19.go.id/

Elise Dwi Ratnasari, C. I. (2018, Maret 21). Merayakan Hari Down Syndrome Sedunia dengan Kaos Kaki Warna. Retrieved from cnnindonesia.com: https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180321112252-255-284662/merayakan-hari-down-syndrome-sedunia-dengan-kaos-kaki-warna

Halodoc, R. (2018, Desember 11). Cara Pencegahan Ibu Hamil agar Tidak Memiliki Anak Sindrom Down. Retrieved from halodoc.com: https://www.halodoc.com/artikel/cara-pencegahan-ibu-hamil-agar-tidak-memiliki-anak-sindrom-down

Ini Syarat Donor Plasma Konvalesen dan Cara Menjadi Donor. (2021, Juli 11). Retrieved from Kompas.com: https://www.kompas.com/sains/read/2021/07/11/205128623/ini-syarat-donor-plasma-konvalesen-dan-cara-menjadi-donor?amp=1&page=2

Irwanto, H. W. (2019). A-Z Down Syndrome. Retrieved from http://repository.unair.ac.id/: http://repository.unair.ac.id/89288/1/A-Z%20Sindrom%20Down_compressed.pdf

Josep, H. (n.d.). Hari Keluarga Internasional . Retrieved from QMfinancial: https://qmfinancial.com/2019/05/hari-keluarga-internasional/

Ketahui dan Segera Hindari 7 Faktor Utama Penyebab Down Syndrome Ini. (2019, Maret 21). Retrieved from idntimes.com: https://www.idntimes.com/health/fitness/m-tarmizi-murdianto/penyebab-down-syndrome/7

Lisfianti, W. (2021, Juli 23). Donor Plasma Konvalesen : Simak Syarat, Manfaat dan Alur Donor. Retrieved from Tribunnews.com: https://m.tribunnews.com/amp/nasional/2021/07/23/donor-plasma-konvalesen-simak-syarat-manfaat-dan-alur-donor?page=3

Peringati Hari Down Syndrome, Yello Gelar Acara Menarik. (2017, Maret 20). Retrieved from julajuli.com: https://cityguide.suarasurabaya.net/read/2017/03/20/611/Peringati_Hari_Down_Syndrome__Yello_Gelar_Acara_Menarik

PMI Permudah Syarat Jadi Donnor Plasma Konvalesen, Apa Saja? (2021, Juli 22). Retrieved from Kompas.com: https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/tren/read/2021/07/22/085200565/pmi-permudah-syarat-jadi-donor-plasma-konvalesen-apa-saja

Prabandari, A. I. (2020, Agustus 19). 8 Fungsi Keluarga yang Perlu Diketahui, Wujudkan Kehidupan Sejahtera dan Berkualitas. Retrieved from merdeka.com: https://m.merdeka.com/jateng/8-fungsi-keluarga-yang-perlu-diketahui-wujudkan-kehidupan-sejahtera-dan-berkualitas-kln.html?page=9

Rachman, A. (2019, Mei 03). Pengobatan Down Syndrome yang Baik untuk Perkembangan Anak. Retrieved from sehatq.com: https://www.sehatq.com/artikel/anak-down-syndrome-dan-perawatan-untuk-mereka

Rokom. (2021, Januari 19). Terapi Plasma Konvalesen, Harapan Baru Tangani COVID-19. Retrieved from sehatNegeriku: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20200908/1834814/terapi-plasma-konvalesen-harapan-baru-tangani-covid-19-2/

Sejarah Hari Keluarga Internasional 15 Mei. (n.d.). Retrieved from Enkosa: https://www.enkosa.com/2021/04/sejarah-hari-keluarga-internasional.html

Setiaputri, K. A. (2020, Oktober 18). Penyebab Down Syndrome, Kondisi Kelainan Kromosom Genetik pada Bayi. Retrieved from hellosehat.com: https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/penyebab-down-syndrome/

Sunita, d. (n.d.). Efektvitas dan Keamanan Plama Konvalesen Sebagai Terapi COVID-19. Retrieved from alomedika: https://www.alomedika.com/cme-efektivitas-dan-keamanan-plasma-konvalesen-sebagai-terapi-covid-19

Syambudi, I. (2021, Februari 11). Efektivitas Terapi Plasma Konvalesen & . Retrieved from tirto.id: https://tirto.id/efektivitas-terapi-plasma-konvalesen-potensi-mutasi-covid-19-gaaP

Terapi Plasma Darah . (2021, Februari 15). Retrieved from Ciputra Hospital: https://ciputrahospital.com/terapi-plasma-darah/

Terapi Plasma Darah. (2021, Februari 15). Retrieved from Ciputra Hospital: : https://ciputrahospital.com/terapi-plasma-darah/

Willy, d. T. (2019, Maret 25). Down Syndrome. Retrieved from alodokter.com: https://www.alodokter.com/sindrom-down

Yuk, Bersama Membangun Keluarga Sehat! (2019, Juni 29). Retrieved from klikdokter: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3629490/yuk-bersama-membangun-keluarga-sehatYu

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.